Cinta Tak Selamanya Saling Memiliki

Pagi ini aku berjalan sendiri. Aku merasakan embun di wajahku di antara air mataku yang menetes menutupi hawa yang sudah terlanjur samar dan buram. Waktu telah menggerogotinya, sejarah kasih kita semakin tandas dihapus oleh jejak-jejak hati yang terus bertumbuh menjadi rangkaian bulan dan tahun. Aku semakin sadar kalau kau memang tak akan pernah kembali lagi. Akan kuhayati saat-saat yang manis seperti menghayati keindahan matahari yang berwarna indah di suatu pagi. Lekuk wajahmu terlalu banyak menyimpan kasih sayang yang menetes di hamparan padang hati, takkan terlupakan olehku yang selalu setia menyimpan rindu dan penantian pada waktu yg semakin menjadi sepi. Sesungguhnya aku tetap mencintaimu. Tapi tangis ini telah menjadi hujan yang lenyap terserap oleh pori-pori tanah dalam rentetan musim kemarau yang panjang. Tak ada lagi yang bisa di jeritkan sedang suaraku telah disekap oleh waktu-waktu yang semakin ganas memangsa usia kita. Aku sudah lemah menelusuri perjalanan bumi yang seakan tak pernah mengenal di mana ujungnya dan kita telah punah di tengah-tengah takdir yang merambah hidup dan napas kita. Akhirnya cuma ini yang bisa kuputuskan, mengalirkan kisah kita berdua pada sebuah sungai masa lalu. Sebab lalu lalang sejarah sudah tak bisa lagi menjadi milik kita berdua. Kita bukan sepasang kekasih yang bahagia seperti dulu … Seperti dulu lagi …..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s